Oct
01

Scar in Surabaya’s face

Filed Under (my thought) by soe-the-arts on 01-10-2006

Sekarang ini, semua disain mebel di Surabaya dan (sepertinya)di Jakarta, berkiblat pada Singapore style. Majalah-majalah interior Singapore menjadi ‘kitab suci’ di setiap ruang kantor konsultant dan kontraktor desain interior. Saya juga punya setumpuk majalah tersebut diatas, yang selalu saya buka dan buka lagi untuk mencari inspirasi (atau contekan?? Hehehe!!) Sudah ke Galaxy Mall extension? Coba perhatikan, disain “retro style” sedang merajalela, kenapa?? Jelas lah karena, di Singapore, style ini sedang in!! Bagaimana saya bisa tahu model ini sedang in di Singapore? Salah seorang client saya (seorang kontraktor interior) baru pulang dari Singapore yang kasih tahu, untuk sementara saya belom bisa ke sana sendiri, soalnya belum ada waktu buat ngurus pasport (alasan sebenarnya : UUD, Ujung-Ujungnya Duit! Hehehe!)

Trus, yang saya mau tanyakan, kenapa harus selalu ke “Singapur-singapura an” sih? Kenapa dengan style kita sendiri? Bukannya anti Singapore, bukannya gila etnik…. terus terang saya juga “enek” liat desain interior gaya etnik yang di “pamerkan” di majalah “Griya Asri” ato “Laras”. Soalnya Cuma sekedar asal comot, asal pasang, asal antik, asal tampang etnik, padahal…. ga tahu apa arti etnik? Saya akui, saya suka banget gaya Singapore, asyik, dinamis, dan bersih….tapi bukan berarti saya bisa langsung Copy paste kan? Copy paste emang udah jadi budaya sekarang, budaya jalan pintas, dan bikin kita jadi “kurang berbudaya”. Saya pernah dengar, waktu saya masih kuliah di ITS, ada salah satu dosen ITS yang mewajibkan mahasiswanya untuk mengumpulkan tugas, yang di ketik pake mesin ketik yang bunyinya tik tik tik jegreeeek!!!! Bukannya dosen itu benci komputer ato anti modernisasi, tapi dosen itu “enek” ama budaya copy paste, hehehe!! Dia bilang, biar nyontek, at least kamu baca itu, baru tulis ulang.

Bicara soal copy paste itu juga, saya itu heran banget sama perumahan di Surabaya barat yang pengembangnya luar bisa hebat, yaitu Citraland. Perumahan ini dengan bangganya mengklaim dirinya look exactly alike Singapore, yang bahasa kerennya : Gile, persis bener ama Singapore!! Trus orang-orang dengan bangga tinggal di Singapore-nya Surabaya ini. Trus, kenapa ama style kita?? Kenapa dengan Surabaya? Kok kayaknya malu amat tinggal di Surabaya, sampe harus bikin tiruannya Singapore untuk tempat tinggal. Kalo mo niru Singapore soal system drainase yang ga bikin banjir, siapa sih yang ga seneeenng?? Ato niru gimana singapore mengolah sampahnya, jelas saya juga mau!! Tapi, apa penting coba, mengekspose patung merlion ama Rafless secara gila-gilaan di Surabya? Apa’an lagi si merlion itu?? Mendingan majang lambang negara sendiri kan?? Bagi saya, style pribadi itu selalu ada, dan harus ada, influence dari luar itu bagus juga, bikin style kita tambah kaya. Tapi…., bukannya hisap habis style dari luar, sampe ga ada lagi sisa tempat buat style pribadi!!

Yah…. sorry aja, bagi saya, hunian elit Citaraland itu ga lebih dari bekas luka di wajah Surabaya (scar in Surabaya’s face). Ok, mungkin orang bakal bilang saya cuma sirik karena saya ga mampu tinggal di sana, hehehe!! Terserah penilaian pribadi sih.



1 Comment So Far

Chiauly on 2 October, 2006 at 7:48 pm #
    

Kemarin gua sdh mau kirim komen,tp telkomnet error atao knp g isa ngirim, trus gobloknya g ta save ya terus ilang,deh! terus i juga lupa apa yang dah ditulis.. (maklum skrg walao tampang masih 17, onderdil tetap sdh tuwir)

BTW hari ini dibahas tuh di Jawa Pos, mending itu kompleks perumahan CitraLand. Yang ini Tugu Pahlawan, dikasi patung Romawi.. huahahaha… itu patung juga sumbangan dari…”Ciputra” kekeke…(mungkin “brg sisa”, daripada g kepake jd lebih baik disumbangkan pd “yg membutuhkan dan mau” gitu deh)
Sudahlah, jangan sewot sama kompleks CitraLand itu, yang beli kan juga orang awam. Lagian dibuat juga untuk memenuhi selera pasar. Kalo orang g mau beli otomatis developer juga g mungkin buat tipe/model begituan. Ya kan? Siapa yang mau rugi.
Jangankan orang awam,masak kau lupa masa2 jd mahasiswa desain dulu. Yg mahasiswa saja ada yang buat tugas ala “Asal Dosen Senang” supaya dpt nilai bagus(baca:A), terus comot sana comot sini, konsepnya diawur-awur, “asal tidak ketahuan” di mana-mana hukumnya selalu “HALAL” kan? Calon desainernya aja mentalnya sudah gitu.. so what you expect gitu lhooo…
Lagipula kita kan juga tahu kalau desain itu menunjukkan kepribadian. Ya, kalau aku bilang sih.. Beginilah kepribadian “AREK Suroboyo” itu.. kau kan juga sudah tau kalo mental bangsa ini kan mental bangsa terjajah. nggak cuma di sby saja, di jkt kayaknya g ada yg mengusung tema Local Genius juga tuh. Adanya mah tambal sulam (atau copy paste) spt istilahmu itu. Sudah jangan menyalahkan pihak pengembang Ciputra. Siapa tau konsepnya memang: “Menciptakan hunian seperti di Singapura, untuk orang-orang yang kepingin punya (beli) rumah di Singapur, tapi duit tak mencukupi..” Jadi ya, kita kan tidak tahu, kalau perumahan itu laris…
Konsepnya sudah “betul” dong!
Kalau aku bilang… nggak salahlah. Kan benar-benar mencerminkan “jati diri” orang Surabaya itu??? Huahahaha:P
Kalo nggak suka ya jangan beli di sana, gitu aja…;D


Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: