Akhirnya surat pemberitahuan dari Petra datang ke rumah saya… saya sudah tahu isinya, Matrapala di bekukan 2 tahun….. Sebenarnya saya sendiri kurang jelas, “beku” nya itu gimana. Apa bener2 beku, ngga boleh ada kegiatan apapun atas nama MP, hingga bisa di bilang MP mati (semoga) suri, baru 2 tahun lagi “isya Kristus” baru boleh dibangkitkan kembali?? Kalo begini, ini sama aja membubarkan MP, lha ke nape sulit-sulit pake loe kate beku segale??? BUBAR in aja, beres!! Sita semua inventaris, tali-talinya yang mahal kan lumayan buat njemur baju-bajunya petugas UPPK, alat-alat logam nya yang setara ama body pesawat (alumunium aloy) juga lumayan buat di loakin, ada RIG segala, lumayan buat nge “break” gitu….. Apa lagi kan 80% barang-barang itu boleh di beli BUKAN DARI DUITNYA PETRA…..!! Sorry-sorry, saya esmosis (sangking emosinya)waaaah… gw jadi inget waktu SMA dulu, pernah bikin club Pencinta Alam sama temen2 SMA… emang menyenangkan, dan kita bisa tau sifat asli temen kita ketika kita dalam posisi terdesak such as di gunung atau di hutan…
nice story mas, tapi ya kalo secara sadar membuat orang lain tersiksa tidak akan ada pembenarannya apapun alasannya… karena saya yakin alam tidak diciptakan untuk menyiksa manusia..
CMIIW
Waktu saya mendengar berita pembekuan MP, disertai histeria2 anggota-nya di FB dan berbagai ceritanya, entah mana yang benar mana yang rumor saya gak tau karena saya dah jauh di Jakarta dan gak mengikuti perkembangan MP 4 tahun terakhir ini, jadi saya gak mau berpendapat apapun.
Begitu saya baca tulisan ini, setidaknya saya lebih yakin akan apa yang terjadi. Pengertian saya insiden2 yang terjadi ini karena panitia-nya kelelahan dan emosinya lepas control, kenapa? karena panitia-nya sangat kurang seiring berkurangnya anggota aktif MP sehingga terjadi work overload
Matrapala ini organisasi yang sudah berumur 29 tahun, artinya kira2 sudah mengalami regenerasi hampir 29x iya bukan? Dan mengalami Diklatsar selama hampir 29x juga kan? Itu sebuah pengalaman yang cukup panjang sehingga MP memiliki program tahunan yang berkualitas, dan mempertahankan kualitas itu lebih sulit daripada menciptakan-nya. Dan ini bentuk program berkualitas yang harus dipertahankan ini dibebankan kepada anggota aktif yang terlalu sedikit, malah mungkin lebih sedikit daripada yang menciptakan waktu itu. Logika-nya sama seperti Angkatan Udara negeri kita, dimana hanya dengan 5 F-16 dia mesti menjaga negeri kepulauan yang luas banget ini sementara tetua-nya pada teriak harus bisa sebaik jaman dia dulu (padahal di jaman mereka itu punya puluhan MIG).
Dalam kondisi minim dibutuhkan loyalitas dan rasa memiliki yang tinggi dari para anggota MP, sepertinya yang ini juga mengalami de-gradasi betul nggak? (berharap salah sih…), nah kenapa?
Ada satu hal, dalam keseharian MP kadang ada anggota yang lebih senior suka meremehkan juniornya baik yang masih hasduk putih ataupun dah sama2 biru dengan kata2 seperti “Jaman diklatku dulu lebih berat dari jamanmu”, “Jamanku biyen luweh kompak koen iku anak mami” dll… Kalo saya gak setuju ama yang ini karena bisa mengendorkan motivasi anggota2 yang baru, merasa “ya udah MP emang milikmu, tempatmu untuk tampil gagah, aku dianggap nothing jadi ngapain loyal ama MP…” wadoeehhh….
Emang sih hanya sebagian kecil anggota MP yang seperti itu tapi punya efek jangka panjang seperti ini, loyalitas menurun berarti minat untuk bikin acara open house yang menarik peminat juga turun, kreativitas anggota2 juga menurun karena dah merasa diremehkan padahal itu diperlukan agar MP bisa mengejar perubahan jaman, disiplin waktu untuk hadir di “pembinaan” calon anggota baru menurun, kekompakan anggota menurun dan itu bisa mengurangi minat “arek pembinaan” pula, belum nanti pas Diklat dan pelantikan setelahnya. Dan ini terjadi terus selama bbrp re-generasi MP sehingga semakin kekurangan anggota.
Lalu dalam kehidupan ber-organisasi yang punya system re-generasi Diklat, dibutuhkan panitia dengan kombinasi seperti ini : Ada yang galak untuk penegakan disiplin, ada yang bakat mengayomi sehingga persahabatan dan kekompakan anggota terjalin baik, ada yang bijaksana dan bisa menengahi pertikaian dengan adil, ada yang bakat mendidik jadi bisa nge-doktrin dengan baik, ada yang bakat melobi untuk berhubungan dengan pihak2 terkait, ada yang ahli teknis dan medical untuk menangani masalah teknis yang timbul, ada yang pandai memanage situasi untuk menghandel acara, ada yang lucu dan bakat menghibur untuk membuat suasana MP menyenangkan, dan ada yang leadership-nya tinggi untuk memimpin semua ini. MP memiliki semua ini, namun seiring dengan berkurangnya anggota2 aktif yang memiliki bakat ini karena mereka telah lulus, menjadi alumni dan harus mencari uang, meneruskan kehidupan-nya di luar kota/provinsi/pulau bahkan negeri sementara re-generasi di setiap part itu belum sepenuhnya kelar karena memang gak bisa dikelarin instant dalam satu pentas acara Diklat dan pelantikan saja dan kudu setiap saat dalam keseharian “cangkruk2an nang sekret”, jadi ada part yang hilang dan system dalam ber-organisasi jadi pincang
Apa yang saya tulis ini sebenarnya mengarah pada satu hal…, kemana para alumni?
Waktu saya mendengar MP menghadapi masalah dan kemudian dibekukan, entah kenapa saya jadi merasa bersalah, bersalah karena gak memberi apa2 yang dibutuhkan MP sebenarnya, cuma jadi anggota aktif sebentar doank terus jadi alumni yang menghilang pula… melanglang buana
Sekarang MP dibekukan selama 2 tahun, kalo saya baca2 di FB dan sms2 ada kesan histeria yang menyamakan ini dengan dibubarkan. Menurut saya, pembekuan sementara ini artinya anggota MP bisa bernafas dulu. Karena tidak boleh mengadakan kegiatan resmi tahunan berarti punya waktu panjang untuk mencari ide kreatif untuk menjaring peminat baru, membuat MP lebih menarik di tengah generasi “Blackberry & Facebook”, mencari alumni ataupun orang2 lain yang bisa membantu mengisi kekurangan “staff” yang sedang terjadi & mencari solusi untuk mengembalikan citra Diklatsar MP kembali ke fungsi dasarnya yaitu pendidikan. Sehingga MP bisa kembali dibanggakan oleh UK Petra….., dan anggotanya
Saya sendiri bangga menjadi anggota MP (tapi tidak “membanggakan diri” jadi anggota MP, mohon perhatikan perbedaannya yaa..). Bangga karena pernah menjadi anggota, dari sebuah organisasi paling rapi yang pernah saya rasakan, yang bisa mencetak kepribadian2 superb (walaupun gue bukan salah satunya sih hehehe…), dan telah membekali saya dalam menghadapi kehidupan selanjutnya
Semoga apa yang saya tulis ini bisa membantu, karena saat ini saya dah kesulitan untuk bisa menetap kembali di Surabaya, rumahku dahulu
Saya sebagai salah satu peserta diklat, pingin sedikit membagi cerita.
Begini, jaman dahulu kala saat 5 orang pembinaan mengikuti diklatsar matrapala 2009, terjadi beberapa penyimpangan yang membuat mp dibekukan.
Well, yang pertama itu masalah nonjok perut. Emang nggak ada kejadian gituan, tapi yang ada itu ‘nendang’, ‘nampar’, n ‘nginjek’. Kejadian begitu nggak ada di alam. Emangnya alam bisa nendang, nampar n nginjek?? Meskipun benernya masalah nendang dan beberapa injakan disasarin ke carrier, tapi tetep aja, yang namanya nendang itu tetep bisa bikin orang jatuh njungkel ke depan, dan bayangkan aja waktu itu kita gak boleh jatuh padahal nendang n dorongnya super keras plus ditambah dengan beban berat carrier n capek (mungkin bagi kalian yang hebat nggak ada apa2nya).
Masalah kedua adalah tentang senior yang suka membanding-bandingkan kita dengan zaman mereka dulu. Perkataan ‘diklat kita dulu itu sisa 1 butir nasi dihukum 1 set, kalian ini udah lebih enak dan ringan’ (maaf kalo kosakata diubah, tapi intinya gitu). Perkataan kaya gitu itu sring disebutkan sampe kita ngerasa sebel diremehin sama senior. Kesannya kita yang udah berjuang, bener-bener nggak dihargai. Maaf dulu, tapi emangnya panitia tau kita berjuangnya kayak gimana? denger kayak gitu malah bikin sebel, down n jadi males berjuang. Soalnya berjuang nggak berjuang dianggep sama.
Masalah ketiga, masalah pembalut, konfirmasinya salah tuh. Peserta diklat yang dapet itu, sudah minta pembalut ke kakaknya, tapi jawabannya malah nggak boleh. Trus yang dikasik pembalut itu masalahnya sudah hari akhir-akhir dan yang dapet itu udah berenti, makanya nggak mau. Jadi bukannya gara-gara males dan sebagainya.
Masalah keempat, soal makan. Peserta sampe muntah itu, bukan gara-gara makanannya nggak bisa dimakan (memang nggak enak si, tapi masik bisa). Tapi benernya gara-gara porsinya yang buuuuuuaaaaanyak. Emang benernya itu hal bagus, buat peserta nggak kurang energi waktu kegiatan, tapi yang namanya kebanyakan itu tetep aja menyiksa. Kita sampe muntah itu sudah sampe batasnya. Kita sampe lebih pingin minum tok daripada makan dicekoi sampe kekenyangan mo muntah.
Masalah kelima, masalah banyak orang-orang yang seharusnya ada di diklat. Seperti orang yang bisa bikin suasana enjoy, bikin tertawa dan lainnya. Yang kita rasain di diklat bisa dibilang banyakan dipaksa. Kita sebagai peserta, masak nggak boleh ngomong antar peserta dan nggak boleh ketawa. Memang itu diumpain pas kita sendirian hidup di alam tapi kalo yang dapet pertuah-petuah aja cuma satu orang, kalo nggak bisa ngomong sama yang laen trus apa gunanya? kan sama aja boong. Malah yang kita rasain itu, di diklat cuma ada yang emosian dan mbentak2. Adapun orang2 yang nggak emosian, mereka cuma diem dan nggak ngelakuin apapun. Dan yang mengherankan kok waktu cuma berdua (1orang panitia, 1 orang peserta) panitianya baek2 aja dan bisa diajak ngomong seperti normal. Tapi kok waktu banyak orang tiba2 berubah 180degree, nyentak2 dan rasanya apapun yang kita lakuin semuanya selalu salah.
Masalah penamparan, kita nggak nyalahin panitia sampe emosi. Soalnya waktu itu salah satu pesertanya ngeyel nggak jelas. Kita aja sampe swt ngeliatnya, cuma gara2 masalah cacing. Padahal si panitia sendiri cuma nyuruh dia ngeliat doang dan nggak perlu dimakan. Masak sampe bilang ‘Lebih baik saya mati daripada makan cacing’. Ya nggak heranla panitianya sampe naek pitam. Tapi khusus masalah itu aja, but the other problem is wrong.
Ada lagi, masalah nunggu n kebersamaan. Herannya kita semua harus trus bersama. Tapi waktu kita nunggu satu sama laenn, kita diusir2 suruh jalan duluan. Sengotot apapun kita pokoknya disuruh jalan duluan. Tapi waktu kita nurut, malah dimarahin, disuruh nunggu sodara kita. So,, kita harus gmana dong?
Ya sekianlah dari kita am yang baru. Kita selama ini nggak cerita soalnya menurut kita pribadi, sia2 cerita toh kita ngomong apapun rasanya panitia nggak ngerasa bersalah malah nggak terima kena hukuman dll. Jadi menurut kita nggak ada gunanya cerita karena mereka selalu ada alasan untuk mbela diri dan cerita yang nyampe ke orang laen yang nggak ikut2, kok rasanya lebih mendukung panitia. Rasanya jadi kita yang dipojokin, manja dan salah.
Bukannya mbela diri, kita emang pasti banyak salah, tapi kita juga berharap panita itu nggak selalu mbela diri. Kan kejadian itu nggak ada pihak yang 100% bener ato salah. Keduanya pasti ada salahnya.
Alasan kita sekarang ngomong itu berhubung ada blog ini, jadi pingin mbagi perasaan kita, daripada cuma dari satu pihak kan lebih baik tau perasaan dua arah.Sekian dan terimakasih.
Maaf kalo ada pihak yang tersinggung. Jika ada kesalahan kata mohon maaf, kita nggak bermaksud buruk. Kita juga udah nggak marah, meski masih ada trauma. Kita cuma pingin berbagi cerita dengan kakak2 sekalian.
thanx a lot to “am mp” for ur long comment, i appreciate it a lot, really I’am. Tapi mungkin saya akan lebih appreciate it, kalau anda menulis nama anda dengan jelas. Seperti saya d blog ini, karena saya menulis ini atas nama pribadi, bukan atas nama Matrapala. Terima kasih sekali sudah “curhat” dan “mengkoreksi” kesalahan saya di atas. Seperti yang sudah saya katakan, Matrapala memang salah, dan kami sebagai organisasi sudah menerima hukuman (di bekukan 2 Tahun) dan secara pribadi juga sudah di hukum (skorsing 1-2 semester), semoga yang tersisa sekarang tinggal “goresan” masa lalu yang akan disembuhkan oleh waktu… Amin
hm..bukannya mengatas namakan, tapi kayaknya itu kan udah masalah bersama. Kita pribadi juga nggak mau kalo matrapala sampe beku ato bubar pastinya. Apalagi abis kejadian ini nama matrapala udah jelek kedengerannya. Padahal ini kan bukan salahnya matrapala, tapi karena kesalahan beberapa orang. Mungkin emang ada orang yang masik nggak terima, tapi kami udah nggak papa. Yang berlalu ya biarlah berlalu, biar diongkek2 juga nggak bisa balek kok. Sekian thanks.